Gerakan Ratu Adil dan Huru-Hara di Jawa Bagian Tengah Abad XIX – XX

Gerakan Ratu Adil
Lukisan yang menggambarkan penangkapan dan perasaan sedih Pangeran Diponegoro. (Foto: IG Water Calor Galuh)

Terasikip.com – Gerakan Ratu Adil dan Huru-Hara di Jawa. Sartono Kartodirdjo menguraikan bahwa gerakan sosial merupakan gerakan perjuangan yang dilakukan oleh golongan sosial tertentu melawan eksploitasi ekonomi, sosial, politik, agama, dan kultural, oleh kelompok penekan, apakah itu penguasa atau negara.

Kajian-kajian mengenai gerakan sosial telah banyak dilakukan oleh sejarawan, khususnya yang berasal dari kaum petani, buruh, dan orang biasa. Kelompok masyarakat yang paling rentan mengalami penekanan oleh pihak lainnya. Salah satu contoh historiografi dalam bidang kajian ini adalah “Pemberontakan Petani Banten 1888” karya Sartono Kartodirjo. Gerakan sosial ini dapat berafiliasi dengan kepercayaan lokal maupun keagamaan.

Sartono melanjutkan bahwa Gerakan keagamaan di Jawa (khususnya pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20), tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai gerakan keagamaan murni. Hal ini dikarenakan lembaga keagamaan tidak memerankan peran apapun dalam gerakan. Dalam kontek ini, gerakan maupun protes sosial bersinggungan dengan agama dan kepercayaan masyarakat, atau juga disebut dengan Ratu Adil.

Menurut Sartono dalam bukunya “Ratu Adil”, tradisi gerakan keagamaan cenderung menampakkan sikap revolusioner, salah satunya karena digunakan sebagai ide perlawanan masyarakat. Michael Adas dalam buku Ratu Adil: Tokoh dan Gerakan Milenarian menentang Kolonialisme Eropa” lebih lanjut menjelaskan jika keagamaan merupakan motif kebangkitan bagi kelompok-kelompok yang menginginkan figur positif, pola perilaku baik yang membawa harapan dan kebahagiaan. Keinginan akan harapan dan kebahagiaan ini berkaitan dengan kondisi sosial-masyarakat yang serba sulit.

Berkaitan dengan kesengsaraan dan ketertindasan dalam kehidupan di masa kolonial, salah satu hal yang dipercayai oleh orang Jawa pada umumnya adalah kedatangan “Ratu Adil”. Masyarakat Jawa menganggap Ratu Adil merupakan penyelamat dari berbagai keadaan sulit yang menghimpit kehidupan mereka.

Kepercayaan ini memang meluas di Jawa, dengan keberadaan Jangka Jayabaya. Sebuah kumpulan ramalan-ramalan yang dipercayai berasal dari Raja Jayabaya berisi penggambaran kehidupan masyarakat Jawa di masa depan. Ratu Adil serta berbagai istilah seperti erucakra, juru selamat, satria piningit, dan lain-lain nyatanya hidup dalam alam pikiran masyarakat Jawa sampai hari ini.

Gerakan Sosial dan Millenarianisme-Messianisme

Gerakan sosial, lahir pada mulanya sebagai kelompok sosial atau individu yang tidak puas terhadap suatu kondisi atau keadaan dalam kesehariannya. Keresahan yang mengemuka di antara anggota kelompok sosial menjadi sebuah perasaan bersama yang harus dihadapi. Kondisi ini kemudian akan menghadirkan pemimpin gerakan. Gerakan sosial kemudian terjadi, biasanya hanya dalam waktu yang singkat. Beberapa gerakan menghilang karena faktor pemimpin yang ditangkap atau dijatuhi hukuman oleh Pemerintah Kolonial.

Sartono Kartodirjo membagi gerakan sosial di Indonesia selama abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 menjadi empat jenis. Pertama, gerakan yang melawan keadaan atau peraturan yang tidak adil. Kedua, gerakan Ratu Adil yang bersifat mesianistis. Ketiga, gerakan keagamaan yang memiliki tujuan untuk menggiatkan masyarakat dalam kewajiban keagamaan. Keempat, gerakan para petani yang mendapatkan pengaruh Sarekat Islam.

Baca juga:  Menjadi Mahasiswa yang Ideal Review Buku Soe Hok Gie “Catatan Seorang Demonstran”

Gerakan Ratu Adil muncul dari seseorang yang menerima peran sebagai pemimpin agama, nabi atau juru selamat yang diikuti oleh orang-orang yang percaya kepadanya. Gerakannya bersifat revolusioner, karena menghendaki perubahan mutlak sehingga tidak mengenal kompromi denga siapa pun yang dianggap sebagai lawan (Sudrajat, 1991).

Kuntowijoyo, khususnya dalam kaitannya dengan pembagian perkembangan Islam di Indonesia memaparkan bahwa periode pertama dinamakan zaman mitos. Umat Islam pada zaman mitos ini memiliki kepercayaan mistis-religius. Munculnya radikalisme dalam agraria yang sering terjadi pada abad ke-19, kemudian “mengangkat” mitos Ratu Adil. Mitos ini merupakan cita-cita pemberontakan akibat penjajahan dan kemiskinan pada masa tersebut.

Lebih lanjut, Denys Lombard menyatakan bahwa di tanah Jawa dan Pasundan timbul banyal gerakan besar-kecil yang berciri gerakan “Ratu Adil”. Lombard menyatakan bahwa Ratu Adil merupakan tokoh eskatologis tradisional penegak keadilan yang kedatangannya senantiasa didambakan.

Menurut Jack David Eller, Ratu Adil berkaitan erat dengan apa yang diistilahkan sebagai millenarianisme dan mesianisme. Milleniarisme merupakan keyakinan terjadinya sebuah transformasi besar dalam sebuah siklus tertentu, dengan ditandai datangnya seseorang yang mampu mengubah tatanan masyarakat.

Keadaan yang serba tidak menentu, sebagaimana yang dialami oleh bangsa Indonesia di bawah kekuasaan kolonial, membuat masyarakat mengharapkan kehadiran seorang dewa penyelamat. Mesias, Mahdi atau Ratu Adil. Keyakinan lain yang mirip (apabila tidak dikatakan tumpeng-tindih) dengan millenarianisme adalah mesianisme. Eller mengatakan bahwa messianisme serupa, atau mungkin menjadi bagian dari milleniarisme. Bedanya, tidak ada siklus yang jelas kapan terjadinya transformasi besar tersebut. Mesianisme juga didefinisikan sebagai sebuah konsepsi ideologis yang didasarkan atas kepercayaan dan harapan akan datangnya masa depan yang cerah (Sudrajat, 1991). Kepercayaan dan harapan ini sangat wajar apabila melihat kondisi masyarakat yang mengalami tekanan, baik karena ekonomi, sosial, politik, maupun hal yang lain-lainnya.

Baik millenarianisme maupun mesianisme tidak dapat dipisahkan karena telah banyak mewarnai gerakan sosio-politik, terutama di Jawa sekitar abad ke-19 dan awal abad-20. Namun demikian, Emmanuel Subangun dalam Ajat Sudrajat berpendapat bahwa dalam pandangan hidup orang Jawa, tidak dikenal Mesias. Subangun lebih menekankan bahwa apa yang disebut mesianisme Jawa merupakan “alat peledak” yang digunakan oleh para pemimpin “huru-hara” di pedesaan Jawa.

Baca juga:  Bus Macito, Bus Antik yang Siap Menemanimu Keliling Kota Malang Gratis

 

Gerakan Ratu Adil
Lukisan Penangkapan Diponegoro (Kemendikbud)

Tokoh dan Gerakan yang Muncul pada Abad XIX

Nama Erucakra-lah yang sering dipakai oleh para pemimpin huru-hara di pedesaan Jawa (Sudrajat, 1991). Ricklefs dalam “Mengislamkan Jawa”, mengutip Pigeaud yang mengambil nama Erucakra dari nama Vairocana Buddha. Apabila demikian, maka pengambilan nama ini menegaskan asal-usul dari masa pra-Islam. Mitos Ratu Adil yang sering disebut Erucakra ini merupakan wujud dari harapan datangnya seorang pemimpin yang memerintah dengan keadilan. Erucakra sendiri beberapa kali dipakai untuk gelar tokoh-tokoh pemimpin satu gerakan.

Nama Erucakra sebelumnya pernah dipergunakan pada awal abad ke-18. Putra Pakubuwana I yang turut memberontak pada Perang Suksesi Jawa Kedua, tercatat dalam Babad Tanah Jawi memakai gelar ini. Nama bangsawan pemberontak itu adalah Dipanagara. Dia dilaporkan “menghilang” di Lumajang pada 1823 (Thamrin, 2019).

Pada tahun 1825, Pangeran Diponegoro salah satu putra Sultan Hamengkubuwono V juga menggunakan gelar Erucakra pada masa-masa mengobarkan perlawanan yang kini dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830). Erucakra dipakai bersanding dengan gelar religious dan mesianik seperti Sayidin, Panatagama, dan Khalifah Utusan Allah. Sekitar tahun 1805-1808, Pangeran Diponegoro “berjumpa” dengan roh tokoh-tokoh besar, wali Sunan Kalijaga dan Ratu Kidul. Wahyu terekhirnya diterima pada bulan Ramadhan 1825, sekaligus gelar Erucakra dalam mesianik Jawa yang diberikan Allah kepada Sang Ratu Adil (Ricklefs, 2017). Sejalan dengan hal tersebut, Peter Carey juga membuka pemaparan dalam Kuasa Ramalan, dengan menyebut Pangeran Diponegoro sebagai Ratu Adil.

Sartono Kartodirjo dalam Ratu Adil, sedikit memaparkan mengenai Peristiwa Tegalreja di tahun 1889. Seorang bernama Dulmajid bertindak selaku pendahulu Ratu Adil yang peranannya akan dilakukan oleh Pangeran Suryangalaga dari Yogyakarta. Karena ketiadaan data pembanding, belum diketahui apakah gerakan ini berkaitan dengan gerakan Gusti Muhammad Erucakra di tahun 1918 atau tidak. Kemudian yang kedua adalah, Kasus Nanggulan 1878. Hanya dijelaskan sebatas Sukadrana memainkan peranan sebagai Ratu Adil.

Kedua gerakan yang disebut terakhir dimungkinkan terjadi di Yogyakarta, mengingat nama tempat terjadinya. Tegalrejo kini berada di Kawasan Kota Yogyakarta, sementara Nanggulan menjadi kepanewon dari Kabupaten Kulonprogo.

Tokoh dan Gerakan yang Muncul pada Awal Abad XX

Gusti Muhammad mengaku dirinya merupakan satu-satunya putra sah Sultan Hamengkubuwono V dan Ratu Kedaton, apa yang menjadi tuntutannya adalah takhta Yogya. 15 la dibuang ke Menado bersama dengan ibunya dan diangkat sebagai anak oleh pensiunan Opsir Kesehatan Mayor Dietz, karena itulah ia kemudian disebut dengan nama Dietz. Nama sebenamya ialah Gusti Muhammad dan ketika berusia 15 tahun ia memakai nama Pangeran Suryengalogo (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978).

Baca juga:  Lagu Sepasang Mata Bola, Karya Ismail Marzuki yang Bersenandung Romantis di Kala Perang Kemerdekaan

Latar belakang kehidupan Gusti Muhammad yang “dikeluarkan” dari kraton ini rupanya menimbulkan satu gejolak yang mengilhaminya melakukan gerakan menuntut takhta raja. Hal ini dilakukannya setelah kepulangannya ke tanah Jawa pada tahun 1909.

Gerakan ini timbul sekitar tahun 1918 di Yogyakarta, meskipun tidak ada catatan yang jelas mengenai “huru-hara” yang ditimbulkannya. Dietz menerima pendidikan Eropa yang diperolehnya dari Europeesche Lagere School (ELS), tetapi ia kemudian menjadi guru ajaran mistik ngelmu kamuksan. Namanya ditambah dengan herutjokro, atau dalam ejaan lain adalah Erucokro/Erucakra. Penyematan nama Erucakra ini menasbihkan Gusti Muhammad sebagai juru selamat. Ia kemudian memperoleh pengikut karena kemampuan mengobati dan memiliki ajaran mistik. Status kebangsawanan yang tinggi juga menarik beberapa pengikut dari bangsawan yang rendah dan masyarakat kebanyakan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978).

Gerakan Dietz yang berasal dari keturunan raja di Kasultanan Ngayogyakarta ini juga dilaporkan ada di Semarang pada tahun yang sama (1918). Dua tahun kemudian rupanya Gusti Muhammad masih diingat sebagai penjelmaan Ratu Adil. Hal ini dituliskan dalam laporanlaporan tentang Gerakan Protes di Jawa Pada Abad XX menjelaskan mengenai Mantri Polisi Hardjosoepono pada tanggal 25 September 1920 melaporkan bahwa Goesti Moehammad itu reinkarnasi dari kanjeng Pangeran Suryangalaga yang dahulu di buang ke Menado. Kanjeng Pangeran itu sendiri sudah tidak ada. Goesti Moehammad memang ditakdirkan menjadi Ratu Adil dan akan menyebarkan agama baru (Nurhasanah, 2015).

Gusti Muhammad menjelmakan dirinya sebagai juru selamat, dengan segala ajaran yang akan membawa keselamatan masyarakat. Masa-masa yang diimpikan karena keadilan dan kebahagiannya akan didahului dengan bencana. Oleh karena itu, orang-orang menjadi pengikut Gusti Muhammad supaya selamat. Selain itu juga terdapat kepercayaan bahwa dengan memakai minyak sempurna yang dibawa oleh Ratu Adil itu, maka orang dapat menyelamatkan diri dari bencana (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978).

Menurut Ana Nurhasanah, dalam penelitiannya mengenai Gerakan Messianistik Albert Dietz di Semarang Tahun 1918 fenomena millenarianisme terdapat di dalam Gerakan Gusti Muhhammad atau yang disebutnya sebagai Albert Dietz. Millenarianisme muncul karena adanya kepercayaan masyarakat terhadap lahirnya kembali atau inkarnasi Pangeran Suryangalaga. Kemudian, proses pengangkatannya sebagai Ratu Adil merupakan aspek yang berhubungan dengan fenomena mesianisme. Gerakan mesianisme ini dipengaruhi oleh mitos Jawa mengenai akan munculnya Ratu Adil, yaitu raja kebenaran yang akan membebaskan rakyat dari segala penyakit, kelaparan dan setiap jenis kejahatan.

 

Penulis:

Rosita Nur Anarti

(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah UGM dan Pekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I.Y)