Cara Bertahan Toko Kelontong Madura di Tengah Krisis dan Pandemi

Cara bertahan toko kelontong
Pedagang Toko Kelontong (KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN)

Terasikip.com – Cara Bertahan Toko Kelontong. Pandemi covid-19 telah mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor di Indonesia, terutama di sektor ekonomi. Setidaknya terdapat dua kondisi yang mengakibatkan keadaan collapse (ekonomi). Pertama, pada awal dinyatakan Indonesia darurat Covid oleh pemerintah dengan dikeluarkan kebijakan PSBB, dan kedua pada juli 2021 ketika dikeluarkannya kebijakan PPKM Darurat. Sontak, di kwarter ketiga kondisi perekonomian Indonesia mengalami penurunan. 

Terlepas dari pro dan kontra kebijakan pembatasan, salah satu yang paling dirugikan dari kebijakan tersebut adalah kalangan menengah ke bawah, terutama orang-orang yang mengandalkan hidup di sektor perdagangan. Kita bisa menyaksikan di sosmed bagaimana berita tentang kondisi pedagang kaki lima yang sepi pembeli, toko-toko banyak ditutup hingga gulung tikar, dan pengusaha menengah ke bawah memulangkan pekerjanya. Sedangkan toko-toko dan pengusaha menegah ke atas meski mengalami kerugian tapi masih cukup untuk bertahan. 

Di tengah kondisi menurunnya sektor jual-beli (terutama di perkotaan), satu hal yang cukup unik dan mengejutkan datang dari Toko Kelontong (Madura). Ketika pembatasan mengharuskan ditutupnya sektor jual-beli non esensial pada sekitar pukul 21.00 WIB, seperti Warung Kopi, Indomaret, Alfamart, MC Donald, Mall, dll. Toko Kelontong tetap eksis dan ramai pembeli hingga malam, bahkan ada yang buka sampai subuh. Konon katanya, para pemilik Toko Kelontong ada yang membuka cabang baru. Bagaimana Toko Kelontong bisa survive di tengah pandemi? Bagaimana strategi para pemilik toko kelontong?. Yuk simak penjelasan cara bertahan toko kelontong Madura berikut ini.

Baca juga:  Gula di Tanah Raja: Riwayat Industri Gula di Yogyakarta Pada Masa Kolonial

Buka 24 Jam Non-Stop

Membuka toko secara terus-menerus adalah strategi terbaik dan tepat dalam kondisi pandemi. Mengingat saingan utama bagi para pemilik Toko Kelontong seperti Indomaret dan Alfamart harus tutup sekitar jam 8 Malam. Maka pembeli pun banyak yang lari ke Toko Kelontong. Ditambah lagi harga di Toko Kelontong relatif lebih murah dibanding saingannya. Untuk meminimalisir pengeluaran, cara unik pun dilakukan oleh pemilik toko dengan cara kerja shift

Cara kerja shift biasanya dikerjakan oleh keluarga atau kerabat pemilik. Di beberapa perkotaan sering ditemui yaitu untuk memaksimalkan waktu penjualan tidak jarang shift by shift dilakukan secara bergantian oleh suami-istri. Misalkan pagi buka jam 7 hingga jam 6 sore istri menjaga toko, maka jam 6 sore hingga jam 3 pagi dilakukan oleh suami. Begitu pula sebaliknya. Jika pemilik mempunyai lebih dari satu toko maka penjaga toko biasanya dikerjakan oleh kerabat pemilik. Ini bukan nepotis, kawan-kawan Madura biasanya berpendapat bahwa upaya ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran, mengurangi pengangguran, dan memupuk jiwa enterprener dilingkup keluarga. 

Cara bertahan toko kelontong
Potret Toko Kelontong Madura (Kakus.co.id)

 

Menjual Kebutuhan Pokok

Salah satu alasan mengapa Toko Kelontong bisa survive di tengah krisis dan pandemi yaitu dagangan yang mereka jual berupa kebutuhan pokok sehari-hari. Mie, beras, rokok, telur, minuman, dan jajanan adalah barang-barang yang dicari pembeli, terutama di malam hari. Di perkotaan padat penduduk (dengan anak kos yang banyak) juga menjadi faktor ramainya Toko Kelontong karena selain harganya murah, mereka bisa membeli barang kapan pun juga.  

Baca juga:  Mengkaji Friere Tokoh Pendidikan Kritis

Madurisme

Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Madura terkenal ulet, punya tekat kuat, berani, perantau dan suka jualan. Jaringan dan relasi darah Madura pun luas, bahkan mungkin di setiap daerah di Indonesia ada orang Madura yang berdagang. Sampai-sampai ada istilah “Madura Negeri” dan “Madura Swasta”. Tentu, bagi orang Madura mereka cenderung akan membeli barang ke sesama orang Madura, apalagi jika pembeli bisa berbahasa Madura kadang digratiskan dan dikasih murah. Ini bukan tentang masalah rugi, tapi strategi yang baik untuk menarik pembeli dengan skala yang panjang. 

Ahmad Fahmil Aziz
Pelaksana Harian Terasikip.com