Tinder, Aplikasi Kencan Online, dan Kerentanan Perempuan Jadi Korban Pelecehan

Aplikasi Kencan Online
Tampilan awal aplikasi kencan online Tinder pada versi Website (tinder.com)

Terasikip.com – Aplikasi kencan online di Indonesia sudah tidak terhitung ada berapa macam dan jenis yang bisa diakses oleh masyarakat umum, aplikasi kencan online seperti Tinder atau Michat dan lainnya tersebut masih menjamur pada gadget masyarakat secara luas.

Sebutlah satu aplikasi kencan online yang satu ini, aplikasi yang bernama Tinder ini menjadi aplikasi kencan online paling populer di seluruh dunia, tidak sedikit pula di Indonesia yang menggunakan aplikasi Tinder maupun sejenisnya.

Baru-baru ini perusahaan teknologi ini mengklaim bahwa menjaga keamanan perempuan sekarang menjadi “jantung” dari aplikasi kencan online Tinder. Hal tersebut dilakukan setelah pihak perusahaan meluncurkan kemitraan dengan kelompok kampanye bernama No More, dengan tujuan untuk mengakhiri kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga.

Dilansir dari BBC News Renate Nyborg selaku CEO wanita pertama Tinder mengatakan bahwa pekerjaan keselamatan kami (perempuan) tidak pernah selesai. Salah satu cara dia mengatasi masalah tersebut adalah dengan mempekerjakan lebih banyak perempuan di seluruh perusahaan, dimana sejak menjadi CEO Tinder ia meningkatkan pekerja perempuan sebesar 30 persen pada tim produk Tinder.

Hal tersebut kemudian ditanggapi oleh Direktur End Violence Against Women, Andrea Simon yang mengatakan hal yang dilakukan oleh pihak Tinder hanyalah langkah kecil dalam mengatasi jumlah pelecehan yang dialami oleh perempuan secara online, aplikasi kencan seperti tinder harus ada tindakan proaktif untuk mengatasi penyalahgunaan.

Baca juga:  Rekomendasi Buku Bacaan tentang Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Persoalan Aplikasi Kencan Online

Masih pada laporan yang sama, dimana Direktur Eksekutif global dari No More Pamela Zaballa juga turut mengatakan bahwa sangat penting bagi Tinder atau aplikasi kencan online lainnya untuk memastikan baha mereka juga mendidik pengguna mereka, tidak cukup hanya memperingatkan mereka tentang perilaku buruk.

Konflik antara digital dan kehiupan nyata muncul dalam peristiwa yang terjadi pada aplikasi kencan online, dimana perlu untuk memsatikan bahwa siapa pun yang berkencan online dengan aman, itu dimulai dengan pengetahuan atau pendidikan. Keselamatan umum harus menjadi prioritas utama bagi Tinder atau aplikasi apapun, bukan hanya pada perempuan tetapi juga pada siapa pun yang menggunakan aplikasi semacam itu.

Persoalan lain juga muncul yakni aplikasi kencan online tersebut tidak memiliki kewajiban hukum untuk merawat, mengembangkan, maupun mendidik pengetahuan para penggunanya, dimana kelompok-kelompok seperti No More tersebut melakukan kampanye untuk meminta pemerintah mengatasi kekerasan perempuan dan anak perempuan, melalui RUU Keamanan Daring.

Sebelumnya, tepanya pada tahun 2021 yang lalu aplikasi Tinder telah meluncurkan sejumlah layanan keamanan, dimana pesan yang kasar dan berbahaya akan terdeteksi secara otomatis, dengan fitur pengirim pesan akan ditanyai terlebih dahulu dengan “Apakah Anda Yakin ?” serta penerima pesan juga diajukan pertanyaan “Apakah ini mengganggu Anda ?”.

Fitur tersebut diklaim oleh Nyborg, 36, juga turut membantu pesan yang tidak pantas sebesar 10 persen dari yang terjadi dalam aplikasi Tinder. Dimana sejak fitur tesebut diluncurkan sebanyak 50 persen orang telah melaporkan pesan yang tidak pantas atau hal-hal yang mungkin tidak disukai.

Baca juga:  Lagu Perjuangan Mahasiswa yang Wajib Dihafalkan Saat Ospek Kampus

Kerentanan Perempuan Jadi Korban Pelecehan

Data penelitian yang digunakan untuk keperluan dokumenter yang dilakukan oleh BBC Three dengan judul Dating’s Dangerous Secrets juga dari data Badan Kejatahatan Nasional yang menunjukkan perempuan korban kekerasan seksual terkait dengan kencan online berusia 19 tahun kebawah.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 37 persen pengguna aplikasi kencan telah melaporkan seseorang karena perilaku yang tidak pantas. Selanjutnya, sebanyak 63 persen mereka tidak nyaman pada kencan yang dimulai melalui aplikasi kencan, dan sebanyak 33 persen dari mereka pernah mengalami pelecehan.

Sejatinya kerentanan terhadap perempuan dalam hal pelecehan seksual bisa terjadi dimanapun baik online maupun tidak. Setidaknya dari data tersebut bahwa kerentanan perempuan jadi korban pelecehan yang berkaitan dengan aplikasi kencan online sangat memungkinkan untuk terjadi kapan pun dan dimana pun, baik di Indonesia maupun daerah lainnya.

Alexis Germany selaku spesialis mak comblang dan pelatih kencan menyarankan 5 hal ketika sedang ingin melakukan kencan dari aplikasi: Pertama, pada kencan pertama, bertemulah diruang publik. Kedua, jangan biarkan siapapun menelpon untuk menjemputnya. Ketiga, Jangan pernah memberikan informasi pengenal pribadi seperti alamat anda. Keempat, memberi tahu seseorang kemana anda akan pergi. kelima. aktifkan layanan lokasi pada ponsel anda.

Ali Bisri
Pelaksana Harian Terasikip.com