Refleksi Hari Jadi Kediri Ke-1219: Peradaban Besar Bhumi Kaḍiri Abad IX-XV M, Dibesarkan Para Penjunjung Tinggi Pengetahuan dan Kebijaksanaan

Peradaban Besar Bhumi Kaḍiri (Abad IX-XV Masehi) 2
Foto: idntimes.com

Terasikip.com Bhumi (Wilayah) Kaḍiri merupakan suatu daerah kebudayaan yang luas, meliputi Kediri (Kota dan Kabupaten), Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk (pada masa kolonial disebut Karesidenan Kediri), serta ditambah Kecamatan Ngantang (kini masuk Kabupaten Malang). Keberadaannya di tepi Sungai Brantas serta diapit gunung suci Wilis dan Kampud (Kelud) dengan beberapa sumber mata airnya, dan ditambah abu vulkanik hasil letusan gunung api Kelud telah menjadi faktor pendukung kesuburan tanah di wilayah tersebut (Hardiati dkk, 1990; 2010; Nugroho, 2022). Bukti tertua hadirnya kebudayaan kuna masa Hindu-Buddha, terjadi pada awal abad IX Masehi. Hal tersebut dibuktikan dengan Prasasti Hariñjing dari daerah Kecamatan Kepung-Kediri, bagian pertama (A) diekuvalenkan ke penanggalan Masehi jatuh pada tanggal 25 Maret 804 Masehi (Kini dijadikan tanggal Hari Jadi Kediri) (Atmodjo, 1985). Prasasti tersebut menceritakan tentang seorang Bhagawanta, yaitu pendeta agung berpengetahuan tinggi bernama Bārī membuat dawuhan (bendungan) dengan membuat sudetan sungai di Hariñjing. Kegiatan tersebut merupakan suatu proyek besar (megaproyek) sebagai bukti kecerdasan manusia atau masyarakat Jawa Kuna dalam mengendalikan alam, diperkirakan sebagai usaha penanggulangan bahaya bencana banjir serta peningkatan agraria melalui pembangunan sarana irigasi persawahan.

Prasasti Hariñjing di atas merupakan bukti penanaman pengaruh awal Kerajaan Mataram Kuna di Bhumi Kaḍiri ketika pusat ibukota kerajaan masih berada di Jawa bagian tengah, sebelum menyusulnya pengaruh-pengaruh selanjutnya, yaitu dari masa pemerintahan Śrī Mahārāja Rakai Watukura Dyaḥ Balitung (±898-910 M), Śrī Mahārāja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Śrī Wijayalokanāmostungga (±927–929 M), serta setelah masa perpindahan pusat ibukota Kerajaan Mataram Kuna ke Jawa bagian timur oleh Śrī Mahārāja Siṇḍok (±929-948 M). Ismail Lutfi (Ketua PAEI Komda Jawa Timur), menyatakan bahwa penanaman pengaruh dengan menanamkan atau mengirimkan orang-orang cerdas dan berpengetahuan ke daerah-daerah tersebut, merupakan suatu konsolidasi budaya yang terjadi pada masa Jawa Kuna. Orang-orang cerdas dan berpengetahuan tinggi itu akan mampu membawa pengaruh kekuasaan kerajaan dan kemajuan pada daerah yang dipengaruhinya. Usaha konsolidasi budaya tersebut dilakukan dengan terkonsep sangat rapi melalui kebijakan resmi para raja dalam piagam prasasti beraksara dan berbahasa Jawa Kuna.

Masa Berkembangnya menjadi Peradaban Besar (Abad XI-XII Masehi)

Bhumi Kaḍiri berkembang menjadi suatu peradaban besar sebagai kerajaan terjadi pada abad XI-XII Masehi, yang berpusat di daerah Kabupaten Kediri saat ini. Pada abad XI Masehi, Bhumi Kaḍiri pernah menjadi kekuasaan Śrī Īśāna Dharmawaṃśa Têguh Anantawikramottuṅgadewa (±996-1017 M), yang telah menguasai seluruh daerah kebudayaan abad XI-XII Masehi di sekitar kawasan Gunung Wilis bagian timur dan barat. Kemudian baru terjadi pemisahan secara politik pemerintahan terjadi pada masa pemerintahan Raja Airlangga (1019-1042 Masehi), di mana daerah bagian barat Gunung Wilis hingga abad XII Masehi lebih didominasi oleh keturunan Raja Dharmawangśa Têguh. Kerajaan Kaḍiri mewarisi beberapa tinggalan budaya dari keturunan Dinasti Iśāna (Iśānawangśa), antara lain: artefak miniatur rumah, aksara kuadrat, serta tinggalan budaya yang paling dominan yaitu penulisan karya sastra dalam bentuk puisi Jawa Kuno (kakawin) (Nugroho, 2022).

Baca juga:  Fosil Hewan Purba Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Nganjuk

Karya sastra kakawin merupakan puisi Jawa Kuno sebagai karya intelektual berisi pengetahuan dan kebijaksanaan hasil gubahan dari para cendekiawan istana, atau disebut sang kawi (sang pujangga). Kakawin berisi puji-pujian kebesaran raja pelindung para pujangga beserta kerajaannya. Selain itu, kakawin juga menggambarkan alam pikiran dari penulisnya (sang kawi) serta masyarakat Jawa Kuno yang hidup di zamannya (Sedyawati, 1985; Hardiati dkk, 2010; Zoetmulder, 1974). Lebih jauh lagi, kakawin dari masa Kerajaan Kaḍiri berisi tentang berbagai pengetahuan dan kebijaksanaan yang didalamnya dapat diketahui tentang ilmu siasat dan strategi perang (wyuha), politik dan pemerintahan, kesusilaan, tata upacara keagamaan (yajña), Hakikat Tertinggi atau Kesejatian (Tattwa) untuk menjadi manusia utama (pengetahuan untuk brahmana agung dan raja), serta beberapa pengetahuan dan kebijaksanaan lainnya.

Kakawin paling tua digubah oleh Mpu Kanwa dari masa pemerintahan Raja Airlangga (abad XI Masehi), yaitu Kakawin Arjunawiwāha. Dr. Ninie Soesanti, M.Hum dalam diskusi di Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) pernah menyampaikan bahwa Kakawin Arjunawiwāha merupakan karya intelektual dari Mpu Kanwa, di mana secara tidak langsung sebenarnya merupakan perwujudan dari kehidupan Raja Airlangga pada saat mengasingkan diri, menyusun kekuatan, hingga mampu menegakkan kekuasaannya kembali setelah mengalahkan musuh-musuhnya. Pada naskah kuna tersebut, Raja Airlangga diperwujudkan sebagai figur atau tokoh Arjuna sebagai seorang ksatria utama yang memegang teguh dharmma (kewajiban).

Peradaban Kaḍiri Abad IX-XV, Pengetahuan dan Kebijaksanaan
Foto: Naskah Lontar Kakawin Arjunawiwāha (Sumber foto: Perpusnas RI)

Selanjutnya, tradisi penulisan kakawin yang berkembang pada zaman Kerajaan Kaḍiri telah melahirkan beberapa tokoh-tokoh intelektual para kawi (pujangga) dengan hasil gubahannya dari masing-masing periode pemerintahan rajanya. Para kawi (pujangga) tersebut, antara lain:

  1. Mpu Panuluh dan Mpu Sêdah dari masa pemerintahan Raja Jayabhaya (± 1135-1157 Masehi), dengan karyanya yaitu Kakawin Hariwangśa, Kakawin Bhāratayuddha, Kakawin Gaṭotkacaśraya, dan Kakawin Hariwangśa.
  2. Mpu Triguṇa dari masa pemeritahan Raja Jayabhaya (± 1135-1157 Masehi), dengan karyanya Kakawin Kṛṣṇāyana.
  3. Mpu Dharmaja dari masa pemerintahan Raja Kāmeśwara (± 1182-1185 Masehi), dengan karyanya Kakawin Smaradahana.
  4. Mpu Tan Akung yang diperkirakan dari masa pemerintahan Raja Kṛtajaya (±1190-1222 Masehi), dengan karyanya Kakawin Lubdhaka. Kemudian juga terdapat karya sastra dari masa Kerajaan Kaḍiri yang lain yaitu: Pārthayajña (Poerbatjaraka, 1957; Zoetmulder, 1974; Hardiati dkk, 1990).

(Seluruh naskah kuna di atas sudah tersedia dalam bentuk alih-aksara dan terjemahan)

Misalnya, pengetahuan dalam Kakawin Bhāratayuddha menjelaskan terdapat perbandingan antara Prabhu Kresna sebagai kusir perang Arjuna, dengan Raja Salya (Kerajaan Madra) sebagai kusir perang Karna. Prabhu Kresna dengan segala pengetahuan politik dan peperangan yang dimilikinya selalu memberi motivasi serta menguatkan hati Arjuna, sehingga dapat mencapai target dalam perang bhāratayuddha. Sementara itu Raja Salya yang dipaksa untuk menjadi kusir perang Karna, justru malah menjatuhkan semangat dan selalu merendahkan diri Karna dalam perang bhāratayuddha, sehingga menjadikannya seorang ksatria yang kurang percaya diri dan akhirnya kalah dalam medan peperangan bhāratayuddha (Wirjosuparto, 1966). Itulah sedikit pengetahuan yang dapat dipetik dari kakawin hasil gubahan para pujangga (sang kawi) dari Kerajaan Kaḍiri, dan sebenarnya masih banyak lagi pengetahuan dan kebijaksanaan apabila mau menelaahnya satu-persatu dari beberapa kakawin di atas.

Baca juga:  Demi Telusuri Jejak Desa Pancasila Masa Orde Baru Peneliti Sejarah UM Melakukan Riset di Blitar

Keberadaan beberapa pujangga (sang kawi) beserta hasil-hasil karya sastra puisi Jawa Kuno (kakawin) di atas, merupakan bukti-bukti tersalurkannya gagasan intelektual dalam bentuk karya tulis yang mengandung unsur keindahan (kalangwan), serta dapat dinikmati dalam nyanyian lantunan tembang-tembang kakawin. Berkembangnya penulisan karya sastra tersebut, pastinya juga diimbangi dengan berkembangnya pusat-pusat pendidikan keagamaan (maṇdala) yang di sekitar kawasan Bhumi Kaḍiri (Sedyawati dkk, 1991). Lokasi tersebut saat ini dapat kita ketahui pada goa-goa di Gunung Klotok-Kediri dan Gunung Budheg-Tulungagung, serta diperkirakan beberapa pertapaan di Gunung Kelud (Kampud) dan Kawi.

Warisan Budaya Intelektual Kerajaan Kaḍiri Harus Tetap Dilestarikan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa nenek moyang atau leluhur masyarakat daerah Kediri dan sekitarnya, merupakan orang-orang yang cerdas berintelektual tinggi. Warisan budaya intelektual dengan berpegang teguh pada pengetahuan dan kebijaksanaan harus tetap dilestarikan, yaitu dengan tetap menciptakan orang-orang cerdas berintelektual serta menjaga Daerah Kediri dan sekitarnya sebagai pusat aktivitas pengajaran serta penulisan literasi pengetahuan dan kebijaksanaan. Daerah Kediri juga harus kembali menjadi pusat pelatihan dan pembelajaran para tokoh intelektual, seperti calon raja-raja Singhasari sampai Majapahit sebelum memimpin kerajaan pusat, dilatih terlebih dahulu di Kaḍiri atau Daha. Hal ini juga pernah dialami oleh Gajah Mada selama dua tahun menjadi patih di Daha, sebelum menjabat menjadi Patih Amangkubhumi di Kerajaan Majapahit (Penjelasan Drs. Dwi Cahyono, M.Hum di perkuliahan tahun 2010). Keberadaan Kampung Inggris sangat mendukung pelestarian warisan budaya intelektual, di samping nantinya juga terdapat pusat-pusat pendidikan lainnya di Daerah Kediri. Selanjutnya, konsep konsolidasi warisan budaya dapat diterapkan dalam mendukung program Pemajuan Kebudayaan Nasional.

Kemudian, penulisan karya sastra warisan dari Kerajaan Kaḍiri sebenarnya merupakan jati diri dari suatu wilayah yang kini dikenal dengan Kediri. Namun ke manakah para pujangga dari daerah Kediri saat ini?, dan di manakah karya-karya mereka dapat ditemukan?. Mungkinkah seorang pujangga dari masa kolonial yaitu Tan Khoen Swie (1883-1953) menjadi pujangga Kediri yang terakhir?. Oleh karena itu, sudah saatnya penulisan karya sastra di Daerah Kediri kembali ditradisikan, karena menulis beberapa karya sastra seperti puisi, syair, cerpen, cergam, prosa, dan novel tidak bisa dipaksakan. Namun harus ditradisikan, dalam arti para pujangga terutama akademisi dan sarjana Sastra Indonesia atau Jawa terutama dari Daerah Kediri, harus produktif menulis sastra untuk Daerah Kediri dan bukan hanya mempelajari karya-karya sastra lama. Sempatkanlah menjadi pujangga walau hanya dengan satu puisi atau karya sastra, dan berilah teladan bagi generasi penerus untuk mengembangkan kembali bibit-bibit para pujangga di Daerah Kediri. Kelihatannya cukup sulit, namun itulah sebuah upaya untuk mengembalikan jati diri Kediri sebagai “bhumi pujangga sejuta sastra”.

Baca juga:  Sejarah Kota Batu, Dari Perkebunan Kolonial Hingga Pariwisata

Mengembalikan jati diri Kediri sebagai negeri pujangga dapat dimulai dari diri sendiri, terutama dari tergugahnya para sastrawan atau pujangga, akademisi dan peneliti sastra, serta komunitas sastra dari Daerah Kediri. Penulis yang berlatar belakang Sejarawan Indonesia Kuno dan epigraf Jawa Kuno, disela-sela waktu penelitian tetap menyempatkan diri untuk menulis puisi dan kini sudah terdapat sekitar 100 puisi berhasil digubah. Pada buku ontologi puisi berjudul “Syair Kelana” terdapat 70 puisi (Nugroho, 2022), salah satunya puisi pujian untuk Daerah Kediri sebagai berikut:

Puisi 002:

Kediri dalam Jati diri

Kediri… Kadhiri
Sang Penyair menyebutmu dalam Śāstra Nagari,
Dari zaman dulu hingga masa kini,
KadhiriRajya putra siniwi rumaksa widhi,
Sang Kawi… mengucap puji sesanti dalam syair nan sakti,

Kadhiribhumi-mu membentang luas dalam cakrâdri,
Wilis… Pandan… Anjasmara… Kawi… Kelud…
dan Selatan mengelilingimu,
Kali Brantas, urat nadi penumbuh peradaban
maritim-agrarismu,
Senapati Sarwajala… Sang penjaga kedaulatan perairanmu,
Samya Haji Katandan Sakapat… Sang penjaga kedaulatan
wilayahmu,

Kediri… Tetaplah bersemi, Perumahan Bukit Dieng Blok CC No. 9A
Lahirkan putra-putri terbaik untuk negeri,
Majulah terus di tengah modernisasi,
Peganglah jati diri “kota api” dan bhumi panji,
Keberanian dan cinta, harus selalu tumbuh di dalam hati.

(Yogyakarta, 14 April 2022)

Peradaban Besar Bhumi Kaḍiri (Abad IX-XV Masehi)
Foto: Sampul Buku Antologi Puisi “Syair Kelana” (Sumber foto: Dokumen Pribadi)

Penulis: A’ang Pambudi Nugroho, S.Pd, M.A. (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia [PAEI] Komda D.I. Yogyakarta)

Daftar Pustaka

  1. Atmodjo, S. 1985. Hari Jadi Kediri. Yogyakarta: Lembaga Javanologi.
  2. Hardiati, E.S., Soeroso, Suhadi, M. 1990. “Laporan Penelitian Situs Kepung, Kediri, Jawa Timur”, Berita Penelitian Arkeologi No. 40. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  3. Hardiati, E.S., Djafar H., Soeroso, Ferdinandus, P.E.J., & Nastiti, T.S. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. (E.S. Hardiati, Ed.). Jakarta: Balai Pustaka.
  4. Nugroho, A.P. 2022. Syair Kelana (F. Khakim, Ed.). Malang: Jagat Litera.
  5. Nugroho, A.P. 2022. ”Makna Struktur Tanda Verbal dan Visual Sistem Penyampaian Ajaran Suci Tattwa (Hakikat Tertinggi) dalam Kācāryan pada Daerah Kebudayaan Abad XI-XII Masehi di Jawa Timur”, Tesis. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, UGM.
  6. Poerbatjaraka. 1957. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Djambatan.
  7. Sedyawati, E. 1985. “Pengarcaaan Gaṇesa Masa Kaḍiri dan Siŋhasāri: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian”, Disertasi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
  8. Sedyawati, E., Zainuddin, M., & Wuryantoro, E. 1991. Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kedatangan Bangsa Barat. (A. Gonggong, Ed.). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  9. Wirjosuparto, S. 1966. Kakawin Bharata-yudhha. Djakarta: Bhratara.
  10. Zoetmulder, P.J.  1974. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Panjang. Terj. Dick Handoko S.J. 1985. Jakarta: Djambatan.