Daftar Kopi Khas Malang dan Sejarahnya yang Perlu Kamu Ketahui

Daftar Kopi Khas Malang dan Sejarahnya
Kopi Khas Malang dan Sejarahnya (Rowlandpasaribu.wordpress.com)

Terasikip – Daftar Kopi Khas Malang. “Tak ada yang lebih istimewa dari dingin dan wisatanya Malang”. Hmm tapi tidak hanya itu loh, jika kamu menetap atau sekedar berkunjung ke Malang Raya pasti kamu bakal disuguhkan dengan banyaknya pemandangan warung kopi yang hampir ada di setiap sudut kotanya. Mulai dari warung kopi standar anak kos-kosan atau standar anak organisasi yang kalau ke warung kopi nggak pesan, hingga standar para crazy rich yang serba instagrammable (hehe becanda). Tapi tak banyak orang tau, kalau Malang punya kopi lokal wuenaak yang ada nilai historisnya. Mau tahu?, Nih daftar kopi khas Malang yang perlu kamu tahu.

Kopi Dampit

Sudah tak asing lagi bagi pecinta kopi sungguhan dan yang pura-pura suka, kalau salah satu varian kopi yang hampir ada dan selalu hadir di menu kopian adalah kopi dampit.

Kopi dampit adalah salah satu kopi dengan kualitas dan rasa yang diakui dunia. Kopi dengan jenis robusta ini hampir 90 % hasil produksinya diekspor ke luar negeri. Menurut Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, Tomie Herawanto. Kopi dampit sangat populer dalam sejarah perkopian di Indonesia maupun Dunia karena rasanya yang istimewa. Hal itu dikarenakan kopi dampit ditanam di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan air laut serta memiliki struktur tanah yang baik dengan sedikitnya 3 juta pohon kopi.

Baca juga:  Gaya Hidup Minum Kopi di Indonesia

Perkebunan Kopi dampit terletak di kaki Gunung Semeru yaitu di sekitar kawasan dataran tinggi Tengger Bromo Semeru dengan ketinggian 900 meter dpl yang merupakan salah satu syarat penanaman kopi unggulan. Selanjutnya kopi dampit dibudidayakan berbagai daerah di Malang antara lain, dari Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Dampit atau yang biasa juga disebut dengan Amstirdam.

Perkebunan kopi dampit sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Hindia-Belanda, yang pada waktu itu masuk dalam kawasan Afdeeling Malang. Pada tahun 1887-1889, Afdeeling Malang menjadi daerah dengan penghasil kopi terbesar di Jawa timur dengan berat 143.173 pikul kopi. Hal ini bukan tanpa sebab, karena kekayaan alam dan sumber air melimpah ruah di kawasan Afdeeling Malang meski pada musim kemarau . Perkebunan kopi di kawasan Malang didominasi jenis Robusta, Arabika dan Liberia (Sardjono, 1954).

Menurut Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Kecamatan Dampit merupakan kawasan dengan penghasil kopi terbanyak di Kabupaten Malang dengan total produksi sebanyak 2280,3 Ton.

Kopi Ngantang

Kopi Ngantang menjadi salah satu primadona bagi para penikmat kopi. Kopi yang didominasi oleh jenis robusta ini terletak pada ketinggian 600 – 900 mdpl. Dengan perkembangan dan pengembangan cita-rasa tanaman kopi, kopi ngantang terus dikembangankan sehingga punya rasa dan  keunikan tersendiri. 

Pada tahun 1884-1894 ketika harga kopi mulai menurun di pasar dunia, penanaman kopi masih terus berlangsung di kawasan perkebunan kopi yaitu di Kota Malang, Penanggungan, dan Ngantang. Bahkan selama tahun 1901, penduduk di kawasan distrik Kota Malang, Penanggungan, dan Ngantang mampu menyetor 3831 pikul kopi.

Baca juga:  Gula di Tanah Raja: Riwayat Industri Gula di Yogyakarta Pada Masa Kolonial

Sementara itu, beberapa pemegang lisensi leveransir kopi antara lain terdiri dari NV Koffiepellerij Sisir, F.Godia, G.C. Verstege, G.C. Verhey, dan P.D.Vreede. Masing-masing pemegang lisensi memiliki wilayah tersendiri yang tersebar dari Kota, Penanggungan, Ngantang, Karang Lo, Pakis, Sengguru, dan Tengger. Di antara berbagai perusahaan tersebut, NV Koffiepellerij Batu merupakan perusahaan yang menguasai pengiriman kopi hingga 63,7%. Perusahaan ini menguasai kawasan penanaman Kota, Batu, Penanggungan, dan Ngantang (Hudiyanto, 2011).

Dalam perkembangannya hingga saat ini, hampir setiap daerah di Malang (dataran tinggi) didominasi oleh dua jenis varian kopi yaitu robusta dan arabika. Bak masakan asia yang sama-sama dari daging ikan, tapi punya cita-rasa yang aneh dan bikin perut kempas-kempis begitupun dengan dua jenis varian kopi ini. Kopi robusta memiliki kafein 1,7 hingga 4 % sehingga memiliki rasa pahit dengan tingkat keasaman ringan, sementara kopi arabika memiliki jumlah kafein sekitar 0,8 – 1,4 % sehingga mempunyai tingkat keasaman yang tinggi dengan pahit yang tidak belebihan. 

Selain dua kopi lokal Malang di atas, Malang juga masih menyimpan berbagai varian kopi yang unik lainnya, seperti kopi kawi, kopi lawang, kopi pujon, kopi balandit, dll. Meskipun tak sebesar kopi dampit dan kopi ngantang, varian kopi lokal malang lainnya dapat dijamin rasa dan ke khasannya.

Ahmad Fahmil Aziz
Pelaksana Harian Terasikip.com