Cicilan, Burnout dan Bumi yang Rusak dalam Sumpah Milenial

Sumpah
Ilustrasi kondisi pemuda Indonesia saat sedang dalam kondisi banyak beban (Gambar: istock)

Terasikip.com — Sejak kapan jika hari sumpah pemuda datang, milenial selalu dikaitkan sebagai generasi dan representasi penting pemuda sekarang dan masa depan? Dan kenapa milenial pada hari sumpah pemuda selalu dicuap-cuap sebagai penanda generasi yang bertanggung jawab atas masa depan bangsa? Shit. Apakah ini karena milenial fasih dengan teknologi, cerdik, pikirannya termutakhirkan dan dianggap lebih luwes dalam bergerak ? Tentu ini tidak salah. Tapi apakah benar bahwa acuan dan representasi ini datang dari para milenial sendiri? Jika iya, siapa milenial itu?

Jika jawabanmu adalah dari Nadiem Makarim, Belva Devara atau mungkin para stafsus lain yang memiliki jaringan bisnis-politik, maka jawabanmu ini adalah masalah. Para milenial yang sering menjadi objek idaman para politisi boomer itu bukan saja lahir dengan akses serta privilege mereka secara khusus, tetapi juga jaringan investor bisnis yang selalu siap memback-up jika terjadi sesuatu di masa depan dengan unicorn-unicorn mereka. Jika mereka adalah representasi cuap-cuap para pengagum milenial sehingga masa depan bangsa adalah beban milenial, maka bahkan jika sepuluh juta milenial lain ada yang sebenernya jauh lebih kreatif, saya tidak yakin mereka semua dapat mencapai masa depan yang serupa.

Tapi bung,

Katakanlah Nadzom, berumur 27 tahun seorang milenial yang bekerja sebagai mitra di Go-Tor. Ia, sebagaimana pekerja lain di Go-Tor selalu tersenyum ramah ketika menjemput penumpang. Sebagai mitra, ia tidak terikat dengan perusahaan tempat bekerja. Dan tentu, ini adalah idaman bagi milenial lain di generasinya. Ia tidak bekerja selama 8 jam sebagaimana buruh pabrik atau sektor manufaktur, dapat resign kapanpun, dan yang jelas ia bisa mendapat kerja. Tapi, jangan salah. Sebagai milenial, ia harus berpenampilan rapi, rambut klimis dan tangannya lincah dengan sepeda motor.

Nadzom bukanlah seorang yang memiliki kesempatan besar dalam usahanya di dunia bisnis. Ia juga kerap kali gagal setelah mencoba menjadi entreupeneur. Tapi ia tetaplah milenial, bukan? Jadi ia berusaha sefleksibel mungkin dalam kerja. Meskipun setelah mencoba beberapa pekerjaan dalam jangka waktu yang relatif singkat berakhir dengan keputusasaan. Di umurnya sekarang, mimpi-mimpi yang ia bangun semasa muda seakan mendekati pupus. Kini, pinjaman online (pinjol) tengah menjeratnya.

Apakah Nadzom itu Nadiem? Tentu bukan. Realita pahit yang dirasakan hampir semua milenial jelas tidaklah sama. Ada banyak Nadzom diluar sana yang tentunya memiliki nasib sama. Disinilah masalah milenial. Kata ini seringkali dipakai untuk merujuk sebuah objek eksotik nan baru. Milenial dianggap objek yang selalu perlu diberi saran, masukan dan pelajaran untuk situasi hidupnya. Milenial dan bahkan Gen Z yang dianggap para teknokrat adalah sebagai bonus demografi dengan jumlahnya yang membludak juga selalu menjadi objektifikasi bagi kepentingan proyeksi mereka. Katakanlah, untuk mengatasi masalah kerja, milenial diarahkan menjadi entreupeneur dengan mengikuti proyek 1000 entreupeneur. Wow. Dan hasilnya? Bisa dipastikan bahkan untuk mencapai angka 100 saja kesuksesan sudah cukup bagus.

Baca juga:  Tempat Bimbingan Belajar Paling Favorit Pilihan Gen Z di Indonesia

Bung, dari mana anda bisa memprediksi hal tersebut?

Mengenai hal ini, peraih nobel ekonomi Banarjee dan Duflo dalam bukunya Good Economic for Hard Times (2019) menunjukkan bahwa hanya dua pertiga dari usaha kecil di Indonesia bertahan sampai lima tahun, yang bertahan lebih dari itu, hanya mempunyai satu karyawan. Laporan penelitiannya menunjukkan bahwa wirausahawan terjerat mikroredit yang nyatanya tidak pernah mentransformasi skala bisnisnya secara radikal meski telah berjalan belasan tahun. Lebih lanjut, penelitian mereka yang dikerjakan di Indonesia ini menjelaskan juga bahwa usaha kecil entreupeneur tidak mendapatkan akses kredit dari bank karena kekhawatiran bank akan tingginya gagal bayar (credit default).

Dari penjelasan tersebut, setidaknya anda pasti ingin bertanya lalu apa ada pilihan buat milenial bekerja di sebuah negara yang memiliki skema penyelesaian dengan penekanan pada teknokratisasi, dengan skema gurem, industry padat kerja, serta pekerjaan-pekerjaan yang kini semakin mengarah pada meritokrasi dan ditambah UU Cipta Kerja? Disinilah bahwa dengan semakin buramnya pekerjaan yang tersedia, maka pilihan yang ada hanyalah antara kelaparan atau mati. Anda bisa mendapatkan makanan untuk hari ini, tapi esok keadaan sudah berubah. Begitulah gambarannya.

Disinilah fleksibilitas dan kebebasan kerja yang beroperasi sebagai bagian dari transformasi post-fordism dan tengah banyak dielu-elukan oleh milenial menghadapi paradoksnya. Berdasarkan laporan dari The Deloitte Global Millenial Survey 2019, Sebanyak 84 persen generasi milenial lebih memilih untuk terjun menjadi pekerja tidak tetap/lepas. Dan sisanya telah menemukan pekerjaan tetap dan penuh waktu. Dalam laporan ini juga disebutkan bahwa mayoritas milenial tidak memiliki pekerjaan yang memberikan asuransi kesehatan, program pensiun, atau pelatihan yang didanai oleh pemberi kerja, dan 38 persen mengatakan pesimisme mereka dalam masa depan dengan kehidupan mereka akan jauh lebih buruk dari orang tua.

Pesimisme ini menjadi kebenaran mutlak jika melihat kondisi antara kehidupan boomer dan milenial hari ini. Apa yang membedakan antara milenial hari ini dengan generasi sebelumnya sebenarnya kecil. Tetapi apa yang berbeda tentang dunia di sekitarnyalah yang sangat dalam, gaji tidak tentu dan seluruh sektor menyusut seiring sektor ekonomi yang memang lebih memusatkan pada jasa dan konsumsi ketimbang manufaktur. Pada saat yang sama, biaya setiap prasyarat kehidupan yang aman (pendidikan, perumahan, dan perawatan kesehatan) telah melambung sampai khayangan. Dari keamanan kerja hingga jaring pengaman sosial, semua struktur yang melindungi dari kehancuran sedang terkikis. Dan peluang menuju kehidupan kelas menengah, kehidupan dimana boomer hidup, dicabut dari jangkauan milenial. Tidak mengherankan jika bahwa milenial adalah generasi pertama dalam sejarah modern yang dapat berakhir lebih miskin daripada orang tuanya.

Baca juga:  Gaya Hidup Minum Kopi di Indonesia

Maka, jika anda mulai merasa stress dan pesimis dengan masa depan anda sendiri, kenyataanya memang itulah realita milenial dengan pada satu sisi tidak semua menikmati kebebasan berkreasi, dan pada sisi lain hidup dengan kerentanan dan penuh risiko.

Keadaan yang demikian ini akan semakin menjengkelkan anda sebagai milenial ketika menyadari bahwa orang tua selalu menekan anda. Orang tua dan mereka yang hidup pada generasi boomer sering berpikir bahwa generasi setelah mereka pasti punya masa depan yang jauh lebih cerah. Ini baik sebagai penyemangat. Milenial bukan saja akan memecut dirinya untuk bekerja bagaikan kuda, tetapi bisa sampai kelelahan secara mental dan fisik yang ekstrem yang disebabkan oleh stres kerja berlebihan. Keadaan ini, adalah apa yang dijelaskan oleh Anne Helen Petersen dalam bukunya Can’t Even: How Milenials Became the Burnout Generation (2020) sebagai Burnout, yaitu “perasaan bahwa Anda telah mengoptimalkan diri Anda menjadi robot kerja.” Akibat Burnout yang jauh lebih buruk ini dapat membuat Anda kewalahan, terkuras secara emosional, dan tidak mampu mengatasi situasi yang biasanya dapat dikelola.

Padahal, satu hal yang kadang tidak kita sadari adalah bahwa generasi boomer dan orangtua kita lah yang turut membuat masa depan menjadi semakin buram. Boomer telah mengerek harga properti semakin tinggi, hingga bahkan sangat sukar untuk dapat kita jangkau. Inilah berita terburuknya.

Mengenai kepemilikan hunian, kemelut ini tengah mencekik milenial di berbagai belahan dunia. Kajian yang dihelat oleh Yayasan Resolusi di antara para milenial Inggris menunjukkan mereka harus menghabiskan 25 persen dari pendapatannya untuk menyewa atau mencicil hunian, lebih dari semua generasi sebelumnya. Di Indonesia, di mana harga properti melonjak tak terkendali beberapa tahun terakhir, situasinya dengan sendirinya tidak lebih baik. Dengan patokan upah minimum regional (UMR) saja, para milenial harus merelakan sebagian besar pendapatannya untuk memiliki rumah di daerah yang jauh dari tempat kerjanya. Selanjutnya, jika mereka memutuskan tinggal jauh dari pusat kota, dengan sistem transportasi umum yang belum tertata, mereka harus menghamburkan waktu dalam perjalanan pergi-pulang kerja. Waktu yang sangat banyak, semua paham dan sadar itu. Dan banyak dari milenial kini dihadapkan dengan cicilan dan sewa hunian yang bisa jauh lebih membunuh.

Baca juga:  Mengkaji Friere Tokoh Pendidikan Kritis

Sayangnya, bak si buta dari gua hantu, milenial yang selalu dikaitkan dalam sumpah pemuda sebagai generasi muda yang dinanti-nanti setelah sekian purnama, tidak pernah dibicarakan melainkan sekedar persoalan potensinya untuk masa depan dan sekali-kali soal moralitas. Milenial dengan sebegitu cuap-cuapnya para politisi, dipandang sekedar gelembung suara politik dan massa populis 2024. Dan di hari Sumpah Pemuda ini, anda bisa mengeceknya langsung di banyak lini masa bahwa milenial adalah objek utama betapa klisenya anggapan pada generasi ini.

Saya walaupun sejatinya berada di batas antara perubahan generasi milenial dan Gen Z, seringkali melihat bahwa antara dua generasi ini seringkali didefinisikan dengan penuh gemerlap keindahan dan harapan. Tentu ini tidak masalah, selama kita juga diberi ruang untuk mendefinisikan diri sendiri dan menciptakan iklim sosial ekonomi yang sesuai bagi generasi kita sebagai subyek. Tapi, sayangnya saya sadar bahwa itu adalah elegi di saat hujan. Adanya, milenial dan generasi selanjutnya adalah generasi yang mewarisi kerusakan bumi dan iklim, ekonomi yang timpang serta masa depan yang semakin tidak menentu.

Dan nahas, sejatinya hanya ada sedikit pilihan untuk milenial hari ini merayakan semangat sumpah pemuda. Anda bisa tetap menjadi milennial yang terus dipakai sebagai massa politik pendulang suara dalam tiap kontestasi serta sebagai objek konsumen oligarki, atau anda akan bersama membaca Sumpah Milenial yang pernah dituliskan oleh Geger Riyanto dalam esainya dan kemudian saya tambahkan satu sumpah terakhir:

Kami

Putra dan putri milenial

Mengaku bertanah air satu

Tanahnya nyicil dua puluh tahun

Airnya keringat kami yang dihambur-hambur

 

Kami

Putra dan putri milenial

Mengaku bernasib satu

Kerja kontrak selamanya

 

Kami

Putra dan putri milenial

Menjunjung tinggi impian persatuan

Mimpi hidup tenang dan nyaman

Di tengah utangan, cicilan dan bumi yang rusak

 

Penulis: Faith Liberta Aida Muhammad