Raden Saleh dan Lukisan Penangkapan Diponegoro

Raden Saleh Pelopor Seni Modern Indonesia
Lukisan Penangkapan Diponegoro Karya Raden Saleh (Histpria.id)

Terasikip – Raden Saleh Pelopor Seni. Seni dan karya seni dalam sejarah Indonesia seringkali bersinggungan dengan realitas sosial-budaya dan politik. Seni juga acapkali diproduksi bertalian dengan jalannya kekuasaan. Dalam konteks sejarah misalnya, seni dan karya seni yang muncul pada periode kolonial akan berbeda dengan seni pada periode independen (dekolonialisasi) dan pasca-kolonial. Entah kemunculannya sebagai bentuk perlawanan pada kekuasaan atau hadir sebagai bagian dari produksi kekuasaan.

Sejarah seni di berbagai negara mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda-beda. Di Indonesia, sejarah seni rupa tak lain merupakan sejarah seni lukis. Seni lukis hadir berkelindan dengan proses perkembangan sejarah Indonesia.

Pada akhir abad ke-17 bersamaan dengan misi imperialisme dan kolonialisme, bangsa-bangsa Eropa mulai melakukan eksplorasi di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Proyek-proyek ilmu pengetahuan kolonial berjalan dengan bantuan bidang-bidang lainnya. Para ilmuwan dan cakupan ilmu yang mereka geluti tidak cukup mandiri untuk dapat menyediakan semua kebutuhan dalam praktik penelitian di lapangan. Hampir seluruh penelitian bidang ilmu pengetahuan sangat menggantungkan diri kepada ahli-ahli yang dapat membantu mereka menampilkan gambaran visual tentang objek dan subjek yang mereka teliti. Profesi yang paling dibutuhkan sebagai partner utama para scientists itu adalah draftsman atau tukang gambar (pelukis) yang dapat membuat sket-sket atau ilustrasi-ilustrasi yang akurat, detail, dan realistik. Semua bidang ilmu dan riset tanpa terkecuali memerlukan wujud visual dari objek material riset para draftman (Margana, 2020).

Seiring perkembangan pemerintahan kolonial, profesi sebagai draftman mendapatkan angin segar karena pelibatan mereka dalam berjalannya praktik kekuasaan. Menurut Margana (2020), draftman lebih dari sekadar tuntutan profesionalisme di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam hal kekuasaan. Setiap tahunnya, praktik administrasi kolonial telah menghasilkan jutaan halaman laporan dan segala dokumen yang berkaitan dengan jalannya kekuasaan sehari-hari, dari masalah ekonomi, politik, militer, sosial, budaya, dan aspek-aspek lainya. Dokumen-dokumen tertulis itu diciptakan untuk keperluan internal koloni, tetapi juga untuk pengetahuan dan kepentingan negeri induk sebagai dasar pembuatan kebijakan. Namun, sering dirasakan bahwa selengkap apapun laporan dan narasi tertulis yang dibuat belum dapat menghasilkan komunikasi yang memuaskan jika tidak disertai dengan ilustrasi visual dari subjek-subjek yang dibicarakan dan dilaporkan. Dengan demikian, birokrasi dan administrasi kolonial juga sangat membutuhkan para draftman untuk melengkapi laporan-laporan tertulis mereka.

Baca juga:  Pilar Presidensi G20 Indonesia 2022 dan Upaya Perdamaian Dunia

Pada tahun 1857, lukisan “penangkapan Diponegoro” oleh Raden Saleh menandai semangat proto-nasionalisme. Lukisan tersebut mengabadikan peristiwa penting ditangkapnya tokoh pejuang pribumi dan para pengikutnya dari sudut pandang seorang Indonesia. Lukisan penangkapan Diponegoro merupakan sebuah lukisan ejekan dan tuntutan atas kekuasaan terhadap Belanda. Keberanian Raden Saleh untuk menawarkan lukisan ini kepada Raja Belanda menunjukkan keinginannya untuk mengungkap kebenaran sejarah, yakni situasi tentang penjajahan di Jawa (Kraus, 2018). Lukisan Raden Saleh tentang Penangkapan Diponegoro menjadi lukisan pertama perlawanan terhadap kekuasaan (kolonial) dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Kehidupan Raden Saleh

Raden Saleh lahir pada 1811 di Terboyo, Semarang, Jawa Tengah. Raden Saleh lahir dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya bernama Sayyid Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya, dan ibunya bernama Mas Ajeng Zarip Husen (Kraus, 2018:5). Selama masa kanak-kanak, Ia tinggal bersama dengan pamannya bernama Kyai Adipati Sosroadimenggolo, Bupati Semarang. Sejak tahun 1817, Ia tinggal di rumah Residen Belanda di Cianjur yang bernama R. Baron van der Capellen untuk dididik menjadi seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda.

Pendidikan “Belanda” yang ditempuhnya ini sebenarnya bertujuan untuk melepaskannya dari pengaruh pamannya yang sebelum terjadinya Perang Jawa (1825-1830) banyak menaruh simpati kepada Diponegoro. Dengan sikapnya ini maka bupati Sosroadimenggolo menjadi tidak disenangi oleh pemerintah kolonial Belanda. Di rumah Baron van der Capellen, Raden Saleh berkenalan dengan seorang pelukis dan juru gambar Belgia bernama Payen, yang datang ke Hindia Belanda bersama-sama dengan Komisi Reinward. Selama melakukan perjalanan dinasnya ini, Payen memperoleh tugas untuk mendokumentasikan pemandangan alam di berbagai daerah di Hindia Belanda maka yang bersangkutan menyempatkan diri untuk mengajar melukis kepada Raden Saleh muda (Spanjaard, H. 1998).

Baca juga:  Mengkaji Friere Tokoh Pendidikan Kritis

Raden Saleh memperoleh pendidikan dasar melukis pada tahun 1817 hingga tahun 1829 dari seorang pelukis Belgia Antoine Auguste Joseph Payen,  yang ditugaskan oleh pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia untuk mendokumentasikan alam Indonesia atas prakarsa pemerintah Belanda. Berkat anjuran Payen, Raden Saleh diikutsertakan dalam perjalanan Inspektur Keuangan Belanda, Jean Baptiste de Linge, ke Belanda pada tahun 1829. Selama di Belanda, Raden Saleh diperbolehkan belajar melukis pada pelukis potret Belanda Cornelis Kruseman dan pelukis pemandangan Andreas Schelfhout (Desmiati, dkk. 2013).

Lukisan Penangkapan Diponegoro

Raden Saleh pelopor seni modern Indonesia merupakan julukan yang sering di sematkan kepada Raden Saleh. Kendati Raden Saleh tidak membentuk sebuah aliran atau tradisi, tidak pula melahirkan murid-murid langsung. Gelar Raden Saleh pelopor seni dianggap tepat, karena ia memperkenalkan ide-ide baru tentang ruang kemungkinan seni dan seniman ke Jawa. Selanjutnya ia dipengaruhi budaya dan nilai-nilai Eropa jauh melebihi orang Jawa sezamannya. Bagi kelas atas dan elite budaya Jawa, Raden Saleh adalah sebuah fenomena yang agak ganjil juga. Di satu sisi ia membuktikan kesetaraan budaya Jawa di hadapan penguasa kolonial Belanda. Di lain pihak, kesetaraan ini dibuktikan dalam konteks Eropa bukannya di tengah budaya Jawa (Kraus, 2004).

Pada 1869, para petani di daerah Bekasi Jawa Barat, melakukan perlawanan terhadap tekanan kekuasaan asing yang menyebabkan kemlaratan bagi mereka. Perlawanan tersebut kemudian berhasil ditumpas secara keras dan cepat. Dari penyilidikan, ditemukan sepucuk surat yang memakai nama Raden Saleh. Hal tersebut memunculkan dugaan bahwa Raden Saleh merupakan pimpinan gerakan petani (Kraus, 2018). Walau di kemudian hari Raden Saleh tidak terbukti bersalah. Peristiwa tersebut merupakan titik balik dari perjalaan panjang Raden Saleh yang menyadarkannya arti penting dari kolonialisme Belanda.

Baca juga:  Bus Macito, Bus Antik yang Siap Menemanimu Keliling Kota Malang Gratis

Pada tahun 1857, Raden Saleh melukis penangkapan Diponegoro dalam dramatisasi peristiwa dengan menghadirkan ironi dan anomaly melalui tanda-tanda visualitas karya (Marasutan, 1973). Lukisan tersebut berbeda dengan lukisan J.W Pineman yang menggambarkan Diponegoro dalam suasana pasrah, letih dengan kedua tangannya terbentang, dan hamparan senjata tombak tanda menyerah dari para pengikutnya. Pangeran Diponegoro terlihat pasrah menerima nasibnya untuk diasingkan. Sedangkan lukisan Raden Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan sosok yang tengah geram dan tegar meskipun menghadapi kerasnya perundingan yang tengah berlangsung (Carey, 2009).

Diponegoro menunjukkan menunjukkan raut muka penuh amarah dan sikap menghina. Ia memandang De Kock dengan sikap menantang dan De Kock mengambil jarak dengan pandangan dingin dan hampa (Kraus, 2018). Lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro mengecam keras tentang kolonialisme Belanda dan sebagai upaya perlawanan dan membangkitkan martabat pribumi.

 

Ahmad Fahmil Aziz
Pelaksana Harian Terasikip.com