Syair Doda Idi, Politik Memori Dalam Sastra Lisan Rakyat Aceh

Syair doda idi
Istri Teuku Umar bersama para kerabat beserta anak-anaknya (Sumber: media-kitlv.nl)

Terasikip.com – Syair Doda Idi. Bersenandung merupakan salah satu kegiatan yang menghiasi kehidupan masyarakat Melayu. Senandung umumnya terbagi dua, yakni senandung untuk menghibur diri sendiri dan senandung untuk menghibur orang lain. Senandung untuk diri sendiri biasanya dilakukan sambil melepas penat setelah seharian menjalani rutinitasnya, sedangkan senandung untuk menghibur orang lain adalah senandung yang sering kita temui pada kegiatan-kegitan serimonial seperti pada upacara perkawinan. Jenis senandung juga terbilang banyak, di antaranya senandung nasehat, muda-mudi dengan cinta sebagai objek utamanya, pengisahan yang berisi roman dan legenda, serta senandung pengantar tidur anak (Soeryana, 2013).

Senandung pengantar tidur anak merupakan salah satu aktifitas budaya warisan leluhur yang “tetap diasah, dijaga dan dipergunakan” hingga hari ini. Syair senandung umumnya terdiri dari pantun-pantun yang berisi tentang petuah, tunjuk ajar serta nilai-nilai dan prinsip hidup agar kelak si anak menjadi manusia berguna.

Isi senandung yang berisi pesan, ide, dan gagasan sebenarnya memuat unsur kesengajaan agar terjadi komunikasi dari si ibu ke anak. Artinya, telah terjadi komunikasi antara ibu dengan anak, adalah yang disebut dengan senandung. Hal tersebut secara “sengaja” disampaikan oleh ibu sebagai pihak pertama kepada si anak sebagai pihak kedua agar segera tidur, hanya saja ukuran kesengajaan memang sulit untuk diukur disebabkan kemampuan anak baru pada taraf mendengar dan memahami bahwa senandung yang didendangkan adalah memintanya untuk tidur.

Doda Idi: Memori Kolektif dalam Tradisi Lisan

Memori kolektif merupakan gabungan ingatan atau kesadaran sekelompok masyarakat di masa lampau yang hidup kembali pada masa kini untuk dimaknai sekaligus menjadi cerminan kehidupan bersama.

Memori kolektif tersebut menjadi ingatan individu atas pengalaman masa lalu yang hidup dalam masyarakat secara berkelanjutan, melalui penuturan ulang atas pengalaman yang dihadirkan kembali pada masa kini lewat cerita dan gambar atau foto yang merepresentasikan kehidupan masa lalu (Budiawan, 2013).

Narasi masa lalu yang diwariskan itu kemudian dijadikan ideologi masyarakat dalam berinteraksi dan asas berpendapat terhadap kejadian yang memberikan arah dan tujuan berperilaku secara kolektif untuk kelangsungan hidup bersama yang selalu ditandingi alternatif wacana (Billig, 1990).

Di Provinsi Aceh, terdapat kebiasaan bagi seorang ibu untuk memberikan nasehat kepada bayi-bayi mereka melalui syair-syair yang disebut Doda Idi. Doda Idi merupakan sebuah syair yang disenandungkan kepada para bayi sebagai lagu pengantar tidur .

Baca juga:  Anoboy Media Memang Banyak Anime Keren, Tapi Ini 14 Situs Legalnya

Berdasarkan keterangan Fani Dilasari, Doda Idi menjadi sebuah memori kolektif bagi masyarakat Aceh, terutama untuk kaum ibu. Dulunya Doda Idi  merupakan sebuah kebiasaan ibu-ibu Aceh untuk menidurkan buah hati mereka, semacam nina bobo. Biasanya sambil mengayunkan bayinya sembari menyenandungkan syair-syair secara spontan, namun memiliki pesan moral serta doa harapan sang ibu kepada anaknya.

Seiring dengan berkembangnya waktu, Doda Idi ini pun perlahan mulai jarang ditemukan, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan Aceh. Pengabaian bersenandung Doda Idi ini pun kemungkinan dikarenakan beberapa faktor atau penyebab yang membuat kaum ibu tidak melakukan ayunan tersebut. Apakah itu disebabkan kesibukan orangtua, atau tawaran teknologi yang memudahkan kaum ibu untuk menjaga anaknya.

Hingga kini, Doda Idi menjadi memori kolektif masyarakat Aceh. Menurut Paul Connerton sebagai ingatan bersama di dalam suatu kelompok masyarakat yang dibangun dari sebuah pengalaman masa lalu yang terorganisir berdasarkan ingatan, sehingga sebuah ingatan dijadikan dasar kehidupan berperilaku, dan dioperasikan dengan cara eksplisit dan implisit di berbagai tingkatan yang berbeda dari pengalaman, yang mana Aceh memiliki sebuah tradisi semacam Nina Bobo, yang kerap membuaat Pesan dan bimbingan itu secara naluri membuat anak terbuai nikmat dalam ayunan.

Nilai pesan itu mengandung makna bahwa seorang anak harus bersiap membangun hari depan dan bertanggung jawab dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya kepada agama dan orang tuanya.

Syair doda idi
Ilustrasi Menyenandungkan Doda Idi Kini dan Dulu (Gambar: Peakd.com)

Politik Memori dalam Syair Doda Idi

Dalam masyarakat Aceh, dikenal sebuah tradisi lisan yang biasanya digunakan para ibu-ibu untuk menidurkan anak-anak mereka yang masih bayi  dengan sebutan Doda Idi. Tradisi menyanyi Doda Idi adalah tradisi nyanyian untuk menidurkan bayi atau anak kecil sehingga syair inilah yang kemudian pertama kali didengar oleh seorang anak.

Tradisi ini merupakan nyanyian pengantar tidur yang sering dinyanyikan oleh ibu kepada anaknya, baik dalam buaian maupun di ayunan. Kemampuan dan pemahaman ibu-ibu di Aceh terhadap karya sastra lisan berkaitan dengan bentuk dan isi senandung memang tidak perlu diragukan lagi.

Doda Idi merupakan karya sastra lisan Aceh yang berisikan pengalaman hidup masyarakat yang menyangkut sosial budaya yang diseleksi secara kreatif baik isi maupun bentuk penyampaiannya. Seleksi kreatif tersebut berupa bentuk dan isi yang dipilih agar tercapai bentuk estetis, sehingga terciptalah syair Doda Idi yang terbilang populer.

Syair senandung Doda Idi memiliki ciri formal yang dimulai dengan kata “Allah hai do doda idi” sebagai pengantar senandung, kemudian dilanjutkan dengan pantun menggunakan bahasa Aceh. Bentuk syair adalah pantun yang terdiri dari empat baris pantun, dua baris sampiran, dua baris isi yang berdiri sendiri dengan 4-5 kata satu baris. Senandung Doda Idi sebagai salah satu karya sastra lisan sangat disadari oleh masyarakat Aceh yang memiliki tujuan-tujuan khusus dan sengaja dititipkan oleh generasi pendahulunya untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.

Baca juga:  Bad News Is Good News dan Dilema Para Wartawan

Menurut keterangan Zulfamirda, ungkapan-ungkapan yang dipergunakan ternyata mampu merepresentasikan persepsi dan interpretasi latar belakang sosial-budaya Aceh. Artinya, meskipun unsur-unsur pembentuk senandung ada yang berangkat dari peribahasa dan pameo maupun majas namun sebagai perangkat sastra lisan tetap mampu menciptakan rasa, nada dan irama, tujuan dan tema yang merupakan koherensi antara ibu dengan anak. Senandung Doda Idi selalu bergerak mengisi ruang-ruang kehidupan dalam wujud warisan semangat heroik dan patriotik kepada tanah tumpah darahnya seperti yang terdapat pada bait-bait senandung Doda Idi.

Politik memori dalam syair senandung Doda Idi yakni, terdapatnya unsur-unsur patriotik dan heroik di dalamnya yang berkaitan dengan nilai-nilai moral dan politik, perasaan sosial berisikan cinta tanah air sehingga menumbuhkan rasa kebanggaan akan masa lampau dan sekarang atas nama berbakti kepada tanah air. Begitu juga dengan heroik dan patriotisme bagi Ureung Aceh (orang Aceh), tidak lepas dari pasang surut perkembangan sosial budaya Aceh dengan berbagai peristiwa sosial politik dalam perjalanan sejarahnya (Soeryana, 2013).

Syair senandung Doda Idi mengisyaratkan bahwa nilai-nilai heroik dan patriotik memiliki efek yang mampu mempengaruhi seorang anak, yakni psikologis, dan instrumental. Musik memang dapat meningkatkan intensitas emosi dan akan lebih akurat bila emosi musik’itu dijelaskan sebagai suasana hati, pengalaman, dan perasaan yang dipengaruhi akibat mendengar musik (Djohan, 2005).

Kemampuan memori anak-anak Aceh yang terus ditanamkan oleh ibu-ibu Aceh dari generasi ke generasi melalui senandung Doda Idi yang ternyata melahirkan kesadaran, yakni kesadaran masa lampau Orang Aceh yang tertanam subur hingga hari ini, yang berupa kebanggaan masa lampau belaka atau kebanggaan yang berlebihan bahwa orang Aceh adalah keturunan pejuang yang melegenda.

Kesadaran ini melahirkan keseimbangan pada kualitas sikap dan pola hidup kuat orang Aceh akibat dari perkembangan kebudayaan Aceh dalam perjalanan sejarahnya, atas dasar pertimbangan kepentingan dan kebutuhan serta keinginan dari jaringan relasi antar sosial masyarakat Aceh ini sebagai salah satu faktor pembentukan sikap dan pola hidup orang-orang Aceh. Dengan kata lain, penanaman memori yang tanpa disadari dilakukan melalui senandung Doda Idi, berhasil membentu anak-anak Aceh memiliki jiwa patriotism dan heroism yang kuat, serta semangat Jihad yang kuat untuk membela tanah airnya.

Baca juga:  Sejarah Kota Batu, Dari Perkebunan Kolonial Hingga Pariwisata

Syair Doda Idi

Allah hai dodo da idiBoh gadong bi boh kayee uteunRayeuk sinyak hana peu mak briAyeb ngon keuji ureung donya keun
Allahai do do da idaSeualayang blang ka putoh taloBeu rijang rayeuk muda sedangTajak Bantu prang ta bela nanggroe
Wahe aneuk bek ta duk leBeudoh sare ta bela bangsaBek ta takot keu darah ileAdak pih mate poma ka rela
Jak lon tateh, meujak lon tatehBeudoh hai aneuk tajak u AcehMeube bak on ka meu be timphanMeu be badan bak sinyak Aceh
Allah hai po Ilahon haGampong jarak han trok lon woAdak na bule ulon teureubangMangat rijang trok u nanggroe
Allah hai jak lon timang treukSayang riyeuk di sipreuk pante
Oh rayeuk sinyak yang puteh meupreukToh sinaleuk gata boh hate

Terjemah dalam Bahasa Indonesia

Allah hai dô dô da idi
Buah gadung dan buah-buahan pohon dari hutan
Cepat besar anakku, tapi tak ada yang dapat ibu berikan
Aib dan keji yang dikatakan orang-orang

Allah hai dô dô da idang
Layang-layang di sawah telah putus talinya
Cepatlah besar anakku, oh, Banta Seudang!
Ikut bantu berperang untuk membela bangsa

Bangunlah anakku, janganlah duduk kembali
Berdiri bersama pertahankan bangsa
Jangan pernah takut walaupun darah harus mengalir
Sekiranya engkau mati, ibu telah rela

Mari ibu latih kamu berjalan
Bangunlah anakku, mari pergi ke Aceh
Sudah tercium wangi daun dari timphan
Seperti wangi tubuh anak Aceh

Allah Sang Pencipta yang punya kehendak
Jauhnya kampung(ku) tak sampai untuk ku kembali
Seandainya (aku) punya bulu (sayap) untuk terbang
Supaya lekas sampai ke nanggroe (= Aceh)

Kemarilah, nak, agar ibu dapat menimang engkau
Sayangnya ombak memecah pantai
Jika anak(ku) yang putih ini sudah besar
Di manakah engkau akan berada nanti, anakku?

 

Penulis:

Frido Paulus Simbolon

(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada)