Epigrafi sebagai Garda Depan Peradaban Indonesia

Epigrafi Sebagai Garda Depan
Kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional Epigrafi 2022 di Universitas Negeri Malang

Terasikip.com – Epigrafi sebagai Garda Depan Peradaban Indonesia. Pada tanggal 14-15 Oktober 2022 bertempat di Aula Ki Hajar Dewantara, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang telah diselenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional Epigrafi 2022. Kegiatan tersebut diselenggarakan atas kerjasama PAEI (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia) dengan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang. Adapun tema yang diambil adalah “Epigrafi sebagai Garda Depan Peradaban Indonesia”. Acara Seminar dan Lokakarya Nasional Epigrafi 2022 turut dihadiri oleh para pengurus pusat serta perwakilan dari masing-masing komisariat daerah (Komda) PAEI di Indonesia, beberapa dosen sejarah, serta para peserta seminar dan lokakarya dari mahasiswa dan komunitas pelestari warisan budaya.

Dalam sambutan-sambutan pembukaan acara, terdapat poin-poin penting yang perlu dicatat untuk pengembangan penelitian epigrafi di Indonesia untuk masa kini dan mendatang. Beberapa poin penting tersebut, antara lain: (1) Penelitian epigrafi berhubungan dengan pemajuan kebudayaan, (2) Penelitian epigrafi membutuhkan kolaborasi multidisiplin ilmu dan kelembagaan, (3) NKRI membutuhkan kajian masa lalu (salah satunya melalui penelitian epigrafi) untuk memperkuat persatuan, (4) Epigrafi untuk menunjang kehidupan di masa depan, (5) Tugas besar para ahli epigrafi Indonesia dalam peluang dan tantangan inovasi metodologi dan teknologi baru, (6) Inventarisasi, dokumentasi, katalogisasi, dan digitalisasi sumber data epigrafi Indonesia, (7) Pelestarian, publikasi, promosi, dan edukasi sumber data dan hasil kajian epigrafi, serta (8) Memahami pengetahuan-pengetahuan yang terkandung dalam prasasti.

Dr. Ninie Soesanti selaku Ketua PAEI Pusat menyampaikan tentang program PAEI jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Program jangka pendek, antara lain: pendataan kepakaran anggota, kerjasama, sosialisasi dan pendampingan, format Diskusi Epigrafi Nusantara (DEN), serta publikasi. Pendataan kepakaran anggota sudah dilakukan pada tahun sebelumnya, bertujuan untuk mengetahui bidang keilmuan dan keahlian para anggota dalam fokus penelitiannya terhadap data epigrafi. Kerjasama yang sudah dilakukan yaitu dengan Komunitas Sigarda dan Universitas Negeri Malang seperti dalam acara seminar dan lokakarya ini.

Baca juga:  Catatan Ketua DPRD soal Prioritas Pembangunan Kota Malang pada 2023

Sementara program sosialisasi dan pendampingan, bertujuan untuk sosialisasi dan edukasi sumber data dan hasil penelitian epigrafi kepada masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan pendampingan melalui pengiriman praktisi pengajar dari anggota PAEI pada kegiatan-kegiatan rutin pembelajaran aksara Jawa Kuno yang diselenggarakan oleh komunitas pelestari warisan budaya aksara Jawa Kuno. Melanjutkan format diskusi DEN secara rutin khusus untuk anggota PAEI. Terakhir, berhubungan dengan publikasi dalam acara tersebut telah dibahas tentang penerbitan jurnal “Sambhāṣaṇa”. Berhubungan dengan beberapa program jangka menengah dan jangka panjang PAEI, masih akan dibahas dalam rapat-rapat internal dengan anggota dari masing-masing komda dan pengurus pusat.

Epigrafi Sebagai Garda Depan
Kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional Epigrafi 2022.

Epigrafi sebagai Garda Depan Peradaban Indonesia

Hasil dari seminar dan lokakarya nasional epigrafi di atas, seluruhnya dapat dirangkum sebagai berikut:

“Terdapat banyak fenomena atau gejala dalam penelitian epigrafi yang dibahas dalam pertemuan itu, secara garis besar telah disampaikan oleh Ibu Dr. Ninie Soesanti selaku ketua PAEI Pusat. Penelitian epigrafi sudah tidak lagi hanya berupa alih-aksara dan terjemahan prasasti lama maupun baru semata, melainkan lebih dari itu harus diimbangi dengan pengembangan teori, pendekatan, metode, serta paradigma baru dalam ilmu pengetahuan modern. Penelitian epigrafi harus mampu menyesuaikan dan beradaptasi dengan isu-isu penelitian epigrafi itu sendiri, arkeologi, serta sejarah nasional dan internasional. Selain itu, penggunaan dan penguasaan teknologi perekaman atau dokumentasi dan inventarisasi epigrafi juga sangat penting untuk dikembangkan demi menunjang penelitian epigrafi. Oleh karena itu, masih banyak tugas-tugas yang harus dilakukan oleh para ahli epigrafi Indonesia.

Epigrafi sebagai sumber data sejarah, sangat mendukung dalam penelitian sejarah. Hal ini terutama dari masa klasik (Hindu-Buddha) hingga masa kolonial dan pendudukan Jepang, bahkan masa pasca kemerdekaan Indonesia. Mengumpulkan para ahli dalam bidang-bidang tersebut sangat penting dalam memperkokoh pondasi keilmuan epigrafi dan memperkaya hasil penelitiannya.

Baca juga:  Harga BBM Naik, Mahasiswa dan Buruh Serukan Demo Besar-Besaran

Peningkatan sumber daya manusia (SDM) epigrafi Indonesia sangat penting dilakukan, mengingat para peneliti epigrafi (epigrafi) di Indonesia hingga saat ini masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Sementara itu, temuan sumber data epigrafi di Indonesia dari berbagai daerah semakin melimpah dengan bentuk, karakter, beserta varian-variannya. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan berupa pelatihan, workshop, seminar, lokakarya, hingga dorongan atau motivasi untuk studi lanjut dalam jenjang S2 dan S3, serta short course ke luar negeri. Oleh karena itu, para ahli epigrafi yang ada saat ini, diharapkan untuk mempersiapkan diri dalam menerima dan menghadapi tantangan serta peluang tersebut.

Peran para ahli epigrafi Indonesia juga berkaitan dengan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa selama ini telah banyak komunitas-komunitas pelestari warisan budaya aksara Jawa Kuno serta aksara lokal di Indonesia. Perlu disadari bahwa beberapa pelopor atau pemateri (tentor) dari agenda-agenda kelas aksara tersebut, kini tergabung menjadi anggota dalam Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) pada masing-masing komda.

Dalam mendukung pelestarian aksara Jawa Kuno dan aksara lokal sebagai warisan budaya tak benda (intangible), PAEI sudah saatnya mengambil peran untuk mendukung agenda-agenda kelas aksara Jawa Kuno dan aksara lokal pada beberapa daerah di Indonesia, dengan menugaskan beberapa anggota sebagai praktisi pengajar. Berlangsungnya kelas aksara Jawa Kuno dan aksara lokal tersebut sebagai upaya edukasi warisan budaya kepada masyarakat, serta sebagai bentuk pelayanan PAEI kepada masyarakat atas kebutuhan penggunaan sumber data epigrafi, serta sosialisasi dan publikasi hasil-hasil penelitian epigrafi dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam sosialisasi dan pendampingan tersebut, diharapkan akan tercipta kerjasama dan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) dalam upaya inventarisasi, dokumentasi, penelitian, serta publikasi epigrafi di Indonesia. Selain itu juga dalam rangka memperkuat jaringan antar organisasi atau komunitas epigrafi secara sinkronis dan diakronis. Perlu diketahui, akan banyak agenda dan program-program yang harus dilakukan untuk merealisasikan sosialisasi dan pendampingan ini. Konsep tersebut diharapkan juga akan memperkaya generasi peneliti epigrafi (epigraf) maupun edukator (praktisi pengajar) epigrafi di Indonesia, pada masa kini maupun masa mendatang.

Baca juga:  Resolusi Jihad dan Narasi Pembungkaman Sejarah

Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) juga mendukung dalam meningkatkan publikasi produk-produk hasil penelitian serta pengembangan dan pemanfaatan sumber data epigrafi. Hal ini seperti publikasi karya tulis ilmiah epigrafi (artikel atau makalah, buku, dan katalog) dan karya kerajinan (kaos, baju, tas, dan lain sebagainya). Publikasi karya tulis dan kerajinan tersebut dalam rangka meningkatkan kesejahteraan finansial dan moril anggota PAEI serta para pembuat karya-karya kerajinan tersebut. Karya tulis dan kerajinan bertema epigrafi tersebut  diharapkan akan berguna untuk mengkomunikasikan sumber data epigrafi yang mampu disesuaikan dengan fenomena atau gejala kebudayaan masa kini (populer), sekaligus untuk menjawab peluang dan tantangan dalam mengatasi problematika-problematika yang terjadi pada masa dewasa ini. Hal ini masih berkaitan dengan sebuah tema yang pernah diusung dalam Kongres Epigrafi Nasional 2021 tahun lalu, yaitu: ‘Epigrafi untuk Pemajuan Kebudayaan’. Epigrafi menyimpan kekuatan suatu bangsa untuk bangkit dan berkembang seiring dengan kemajuan zaman modern ini.

Demikianlah yang dapat dirangkum dari kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional Epigrafi 2022, beserta FGD Khusus Anggota PAEI dalam rangkaian acara tersebut. Semoga kegiatan ini dapat membawa kemajuan bagi PAEI dan Pemajuan Kebudayaan Indonesia. Sementara itu, adanya segala arahan serta masukan yang berhasil ditampung dalam kegiatan ini menjadi modal untuk pengembangan-pengembangan program dan agenda PAEI pada tahun-tahun yang akan datang. Sekian catatan laporan ini dibuat dan terima kasih”.

PENULIS:

A’ang Pambudi Nugroho, S.Pd, M.A.

(Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia [PAEI] Komda D.I. Yogyakarta)