Bad News Is Good News dan Dilema Para Wartawan

Bad News Is Good News dan Dilema Para Wartawan
Foto: Freepik.com

Terasikip.com – Bad news is good news. Kabar buruk itu ialah berita yang sangat bagus. Walaupun adagium itu tidak selalu benar, akan tetapi secara umum wartawan memang cenderung untuk mencari informasi mngenai kabar buruk.

Sebab apa? Kabar buruk itu ada nilai berita. Contohnya, jika di jalan raya lancar-lancar saja, itu tak ada nilai beritanya. Tetapi, jika kemudian tiba-tiba ada kecelakaan atau tabrakan beruntun, maka jadi itu menjadi berita.

Wartawan dapat menulis, kemudian memberitakannya. Semakin dahsyat kecelakaan, maka semakin tinggi nilai dari beritanya. Semakin banyak korban yang berjatuhan, maka semakin bagus nilai dari beritanya.

Oleh sebab itu kalau tidak hati-hati, menjadi wartawan itu bisa mati rasa. Bagi orang secara umum, banjir itu musibah. Namun bagi wartawan, itu berita yang bagus. Gunung meletus itu menyengsarakan warga, namun wartawan jadi punya banyak berita.

Wartawan yang ngepos di desk kota biasanya tiap hari mengecek kamar mayat rumah sakit, kalau-kalau ada orang yang meninggal tidak wajar. Apakah hal itu berupa kecelakaan, bunuh diri, dibunuh, atau lain sebagainya. Wartawan yang ngepam di kepolisian berharap setiap hari dapat durian runtuh berupa kejadian kebakaran, kriminal, penggusuran, atau lain sebaginya. Semua bad news bisa menjadi good news.

Bad News Is Good News dan Dilema Para Wartawan
Foto: freepik.com

Pada tahun 1996 ada seorang wartawan meliput di Rumah Sakit PMI Bogor, Jawa Barat. Siang itu, terjadi kecelakaan lalu lintas di Kota Bogor. Dua pelajar laki laki SMA yang berboncengan ditabrak oleh truk. Satu orang pelajar telah meninggal dunia. Seorang pelajar lainnya luka parah dan tidak sadarkan diri.

Baca juga:  Sejarah Bahasa Walikan Khas Malang dan Keunikannya

Wartawan itu memeriksa pelajar yang meninggal di kamar mayat. Bahan berita bagus ini. Namun korban ‘hanya’ berjumlah satu orang. Seorang korban yang luka parah masih di ruang UGD terbaring tak sadar.

Perawat dan dokter masih sibuk memberikan pertolongan. Infonya, kondisi pelajar tersebut sudah luka berat. Pihak RS menunggu keluarga korban.

Wartawan itu sudah akan pulang, kembali ke kantor. Akan tetapi, korban yang tewas ‘cuma’ satu. Bisa jadi beritanya nanti hanya dijadikan kilas oleh redaktur atau tidak dimuat sama sekali.

Lantas bagaimana? Wartawan itu kemudian memutuskan untuk menunggu saja. Firasatnya mengatakan bahwa pelajar itu tidak akan bertahan lama.

Hampir satu jam menunggu, kemudian keluarga korban tiba. Ayah pelajar itu masuk ke dalam ruangan. Ketika ayahnya berada di dekatnya, pelajar itu tiba tiba terbangun. Hanya sebentar, mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan suatu hal. Tidak lama kemudian pelajar itu terkulai.

Jerit kesedihan menggema di seluruh ruangan UGD. Pelajar tersebut meninggal dunia.

Wartawan itu kemudian segera meninggalkan RS untuk membuat berita. Tapi hati jadi galau tak menentu. Di satu sisi ia mendapatkan berita bagus, dan lengkap. Di sisi lain menyesali mengapa menunggu dan menyaksikan langsung moment keluarga yang menyedihkan itu.

Ia kemudian berpikir, ‘Jangan-jangan aku tadi berharap anak itu segera meninggal agar berita menjadi lebih lengkap dan bagus? Ah, alangkah berdosanya’. Sampai bertahun-tahun wartawan itu masih belum bisa melupakan kejadian tragis di rumah sakit itu.

Baca juga:  Rekomendasi Buku Bacaan tentang Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Tip Menentukan Nilai Berita: Aktual, Penting, Tragis, Berdampak, Ketokohan, Luar Biasa, Humor, Konflik, Kemanusiaan.

Syarif Dhanurendra
SEO & Webmaster Terasikip.com