Review Film “Ranah Tiga Warna” Cara Survive Ala Mahasiswa

Film
sumber : Google.com

Terasikip.comMan Shabara Zhafira adalah sebuah pepatah arab yang di gaungkan dalam film ini pepatah arab yang memiliki arti  “Barang siapa bersabar, Beruntunglah dia”. Dalam konteks film ini berhasil membawa di fase kehidupan mahasiswa sosok Alif Fikri tokoh utama dalam film ini.

Ranah Tiga Warna merupakan sequel dari film sebelumnya yakni Negeri 5 Menara yang diadaptasi dari novel karya A. Fuadi dengan judul yang sama sebagai pembaca novel yang sudah menantikan visualisasi dari Novel Ranah 3 Warna ini saya menaruh ekspektasi lebih dari film ini.

Maklum hampir sepuluh tahun menantikan film ini jauhnya jarak penanyangan antar sequel menjadikan banyak aspek aspek dari film ini menganti peran vital film ini terutama aktor tokoh Alif dan Randai dalam film ini yang semula di perankan Gazza Zubizareta beralih ke Arbani Yasiz sebagai Alif dan Teuku Rasya menggantikan Sakurta Ginting sebagai Randai.

Dari segi acting mereka berdua cenderung menampilkan hubungan Alif dan Randai terlihat sangat kaku dan terkesan toxic dalam penampilan mereka apalagi dalam adegan rusaknya komputer randai yang di mana ini menjadi puncak konflik di dalam hubungan dua tokoh ini saya sebagai pembaca novel agak kecewa.

Namun secara keseluruhan acting mereka patut di acungi jempol dengan segala konflik baik asmara serta kehidupan Alif sebagai mahasiswa yang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan berambisi untuk keluar negeri.

Baca juga:  Bus Macito, Bus Antik yang Siap Menemanimu Keliling Kota Malang Gratis

Hal yang ingin saya soroti lebih dalam filim ini adalah bagaimana kita bisa belajar banyak nilai kehidupan dari sosok Alif dengan berbagai permasalahan yang dihadapi pada saat sebelum menjadi mahasiswa sampai akhirnya bisa menggapai impianya untuk melanjutkan pendidikannya keluar negeri.

Film
sumber: Google.com

Dari sosok Alif kita bisa belajar menjadi mahasiswa yang tetap survive di tengah ekonomi yang cenderung minim serta meninggalnya sosok ayah di masa perkuliahan. Film ini berhasil menyajikan bagaimana perjalanan Alif untuk survive di Kota Bandung.

Mulai dari berjualan, menjadi guru les hingga menemukan dunia jurnalistik sebagai sumber penghidupan dan akhirnya menghantarkan dia menunju impianya yakni pergi ke luar negeri melalui program pertukaran pelajar di Quebec Canada. Aspek tekun inilah yang harus di lihat oleh mahasiswa sekarang ini.

Selain sikap tekun kita juga harus meneladani sikap sabar yang menjadi poin utama dalam film ini yakni sabar menghadapi momen yang terberat di hidup kita dalam film ini ditonjolkan ketika sosok ayah Alif meninggal dunia. Tentu kehilangan sosok orang tercinta menjadikan sosok Alif lebih dewasa.

Sabar dalam tempaan seorang guru juga menjadi poin penting yang tak boleh dilupakan sosok bang togar yang menjadi guru yang sangat ideal dengan kekerasanya menempa sosok Alif  hingga bisa menjadi sosok penulis yang lihai.

Sebagai penutup dalam review film ini penulis menggajak bagi yang masih menjadi mahasiswa marilah bermimpi setinggi langit dan bersabarlah ketika menghadapi cobaan yang menerpa karena bagi siapa yang bersabar pasti akan beruntung.

Baca juga:  Kejari Kabupaten Malang Bakal Resmikan 31 Rumah Restorative Justice

Zaki Muharor
Ketua Komunitas Terasikip